Dari balik jendela, malam menemukannya sedang
mengelap lensa kamera. Ia sudah memantapkan pikiran. Jika Tuhan berkehendak
demikian, maka balas dendam tidak akan merubah apa-apa. Namun ada sesuatu yang
belum selesai. Sebuah janji yang tak sempat ia tepati.
Saturday, May 13, 2017
Pada Masa Chernobyl
Sebelum aku mati aku ingin mereka melupakanku. Karena
aku ingin sendiri di akhirat nanti. Biarlah aku terbakar tanpa ada yang
mengasihani di neraka, dan jikalau surga menerimaku bersama mereka, aku lebih
ingin dipanggang hidup-hidup daripada harus menjalani semua itu lagi.
Monday, January 2, 2017
Malam Panjang di Jakarta
Di tengah jalan
Jakarta Kota Dani berdiri. Napasnya terengah-engah. Matanya memandang jauh ke
cakrawala di pucuk ruko-ruko kusam. Ia menatap kuat-kuat, berharap semua itu
hanya ilusi, mimpi bodoh yang mewujudkan keinginan lamanya. Namun cakrawala
tetap di sana, membalas pandangannya seakan berkata “apa yang kamu cari?”
Saturday, November 5, 2016
Cerita dari Minimarket
Memulai cerita
adalah bagian yang paling sulit. Entah sudah berapa kali Risa menghindarinya. Memulai
berarti membuka kemungkinan untuk kemungkinan-kemungkinan lain. Risa harus siap
menghadapi naik turunnya situasi, hatinya harus kuat menahan desakan
emosi-emosi, dan yang paling parah adalah otot kakinya harus berjalan
kesana-kemari entah menuju lelaki itu atau sekedar mengkhawatirkannya dari
rumah.
Cerita
yang satu ini sudah ia antisipasi sebelumnya.
Tuesday, November 1, 2016
Hati Mungil Wina
Hari
ini juga Wina harus memperketat perburuannya. Ia adalah seorang pekerja keras, Seorang
wanita yang merubah mimpi menjadi nyata.
Jadi
ia mengolesi gincu tebal-tebal ke bibirnya, menarik stockingnya tinggi-tinggi, mengenakan
gaun merah ketatnya yang terbelah sampai paha, menggulung rambutnya dengan jepit
catok hingga gelombangnya mampu menenghanyutkan setiap pria. Lalu melangkah anggun
ke pesta ulang tahunnya dengan senyum seseksi mungkin.
Monday, February 1, 2016
Cerai
Tidak perlu lagi. Semua sudah
selesai sebelum kamu bilang kita sudah selesai. Aku tidak ingat kapan pastinya.
Tapi kutahu kamu tahu. Bahwa semua
kata-kata cinta yang telah kita bisikkan satu sama lain. Semua janji setia yang
kita lanturkan. Semua itu telah luntur.
Telah Retro
Pagi itu Bejo dibangunkan oleh
sebuah mimpi. Seorang wanita berlapis warna abu disekujur sweaternya berjalan
mendekat perlahan. Roknya yang hanya selutut mengekspos betis ramping beningnya
terlalu banyak. Lalu Bejo menyadari ada yang aneh dengan perempuan itu. Di
tanah batu tajam yang ia dan Bejo sama-sama pijak , ia tidak mengenakan alas
kaki. Menyadari ini Bejo melihat ke wajahnya. Sebelum sempat ia bertanya “Kaki
kamu gak sakit?” Perempuan itu telah mendahului Bejo. Ia bertanya pertanyaan
yang hampir persis; “Hati kamu gak sakit?”
Sunday, July 19, 2015
Dansa Tanpa Langkah: Kembali
Saat aku kecil,
dunia terlihat jauh lebih indah daripada sekarang. Seperti menghasilkan gemerlap
warna-warni disana-sini, setiap sudutnya membakar rasa ingin tahu. Dan sedikit
jawaban sederhana dari Ayah akan pertanyaanku dapat membuat mataku
berbinar-binar takjub.
Sunday, July 12, 2015
Curhatan Malam Seorang Gadis di Zaman Mesin
sebelas
lewat dua puluh delapan menit. Malam.
Pesan terakhirku terkirim sebelas lewat empat. Tiga
puluh menit yang lalu. Pesan terakhirmu tepat lima menit sebelumnya. Kombinasi
angka itu membawaku ke satu kesimpulan; Kamu sudah tidur.
Sunday, July 5, 2015
That Fucking Smile
Namaku terdengar
seperti ledakan begitu mas Doni menyebutnya. Luar biasa memang, bagaimana
panggung dapat mempengaruhi sistem biologis manusia, bahkan tanpa menyentuhnya.
Aku mulai keringat dingin, telapak tanganku basah, dan aku bisa merasakan
kakiku bergetar kecil. Bukan berarti karena panggungku kecil dan penontonku
hanyalah segerumbul anak—banyak sekali anak kecil—umur empat sampai delapan
tahun, aku bisa lebih santai melakukannya. Ini tentang sesuatu yang jauh lebih
dari menghibur anak-anak.
Tentang Hidup
Hitam.
Setiap orang di ruangan itu mengenakan pakaian serba hitam. Mereka berdiri
canggung dalam hening yang merajam, mengingatkan mereka tentang sesuatu yang
telah mereka tinggal; eksistensi. Beberapa memegang gelas berisi anggur. Sebagian
lainnya menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku mereka dan menatap lantai.
Ada juga yang menenteng piring kertas kecil bertahtakan kue legam tak
terkunyah.
Malam Panjang
Malam
merenggang di antara mereka. Tanpa waktu yang bisa dihitung, maupun ruang yang
bisa digambar. Mereka berdua duduk di
sana, memandang sesuatu yang terus-menerus berputar dalam putaran liar;
Potret-potret itu, atmosfir-atmosfir itu, degap-degup itu.
Jatuh
Sejak lama, aku ingin jatuh tanpa
harus takut pada dasar. Dan hari ini, kamu menunjukkanku pada jurangnya. Menggoda sekali,
pikirku. Sudah lama aku membayangkan bagaimana rasanya angin menerpa wajah dan rambut
kala aku jatuh. Bagaimana pakaianku akan terangkat keatas, bekepak tak karuan.
Juga akan sebagaimana keringnya nanti gigiku lantaran tak bisa berhenti
tersenyum.
Pasti akan
menjadi momen paling bahagia di hidupku.
Meta-morposis
Meta sekarang sudah jadi mahasiswi bandung. Tidak
lagi pakai seragam putih abu-abu. Jurusan teknik mesin. Tiap hari disodori
angka dan fisika. Disodori integral, vektor, aljabar atau apalah itu namanya. Yang
pasti semenjak Meta lulus SMA dia tak pernah lagi main kerumah. Mungkin karna
kakak masuk perguruan tinggi yang berbeda. Atau memang karna Meta tak punya
waktu.
Sunday, April 5, 2015
Drama di Stasiun
Rutinitas.
Aku mengawali pagi ini dengan rutinitas. Semua orang sudah tahu rutinitas pagi;
bangun, mandi, sarapan, pakai baju, berangkat. Itu. Selalu itu. Tidak pernah
berganti selama lima tahun aku bekerja. Lelah? Pasti. Ingin melakukan yang
lain? Pasti. Mungkin? Tidak.
Manusia adalah budak uang. Tidak ada
yang tidak tahu kalau kita adalah budak. Tapi, toh, kita senang jadi budak.
Sunday, March 8, 2015
Hujan Sesuai Selera
Malam ini, hujan turun dengan tenang. Tidak seperti
biasa, yang deras jatuh sekuat tenaga memporak-poranda udara.
Malam ini hujan turun secukupnya. Seperti yang
tercantum pada instruksi di buku-buku masak; “Taburkan gula sesuai selera,”
selera disini berarti jumlah kuantitas gula yang penikmat mau. Dan memang
benar, hujan Malam ini turun sesuai seleraku.
Surat Rachel
Kamu
ingat saat pertama kita bertemu? Tidak mungkin kamu bisa lupa. Momen seperti
itu tidak datang dua kali dalam hidup kita. Jadi pasti kamu masih ingat, Iya
kan?
AC
kantin rumah sakit yang tidak dingin, selang infusku yang menjuntai, teh kemasan
yang kamu benci tapi saat itu kamu haus sekali jadi kamu tidak punya pilihan
lain. Di sana ramai, sampai-sampai kita tidak bisa menyembunyikan suara kita.
Sunday, February 22, 2015
Mayones
Sampai sekarang
mayones masih tersasa aneh di lidahku. Padahal dia suka sekali makan salad
dengan mayones. Kalau aku, jangankan salad, sayur saja tak doyan. Katanya salad
itu sehat, dia berkali-kali meyakinkanku bahwa makanan rendah kalori itu bisa
bikin langsing. Lalu suatu hari saat aku makan malam dirumahnya, aku mencicipi sesendok
salad dari mangkoknya. Ada kombinasi menarik dari dua unsur menjijikan itu,
yang membuatku jatuh cinta seketika.
Sunday, February 15, 2015
Jeruk
Dua gelas kopi di
atas meja, americano dan cappucino. Satu gelas setengah penuh sedangkan
yang lain sudah sepenuhnya kosong. Di
sore yang kelabu itu, Frans sedang bersantai di kedai favoritnya. Minum kopi, dua
sekaligus. Terduduk sembari membaca berita-berita monoton di koran harian. Laptopnya
ia biarkan terbuka memampangkan grafik-grafik yang terus menggeliat tidak
peduli pemiliknya sedang apa.
Sunday, February 8, 2015
Angkasa Ion
Seratus ribu meter, angka yang tertulis di panel
penunjuk jarak saat terakhir kali Ion meninggalkan pesawat. Seratus ribu meter
adalah ruang yang berada diantara Ion dan permukaan bumi.
Sementara itu, Lima puluh detik adalah berapa lama Ion
telah terpisah dengan pesawatnya. Detik-detik yang telah dihabiskan Ion dengan
penuh kepanikan dan kecemasan. Ion menjauh dengan kecepatan konstan menjauhi
bumi, sekitar tiga meter perdetik. Lamban tapi menyiksa.
Subscribe to:
Posts (Atom)